Unjuk Literasi Finansial dengan Sarana Digital-Literasi dalam Pembelajaran SMK TI Pembangunan Cimahi

oleh Endang Sadbudhy Rahayu 281

Gerakan Literasi Nasional, mendefisinisikan literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan (GLN:2017). Lebih lanjut, mengutip pendapat Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer. Bawden (2001) menawarkan pemahaman baru mengenai literasi digital yang berakar pada literasi komputer dan literasi informasi.

SMK TI Pembangunan Cimahi-Jabar, telah mengimplementasikan literasi finansial dengan sarana digital dalam pembelajaran kewirausahaan yang diampu oleh Tresi Tiara Intania Fatimah. Tresi, sarjana ekonomi berkomitmen untuk menjadi guru ini mengimplementasikan literasi finansial dengan menggunakan metode yang disebutnya SIKEPO. Metode ini digunakan untuk membimbing peserta didik untuk mebentuk softskills wirausaha.

SIKEPO akronim dari ObservaSI-KEpepet-Praktik-Omset. Dalam proses pembelajaran, pesera didik wajib melakukan observasi terhadap aktivitas usaha riil. Peserta didik dibuat kepepet dengan kontrak belajar dalam bentuk perencanaan usaha untuk mencapai target omset sebesar Rp500.000 dalam satu semester. Untuk mewujudkan rencana usahanya, mereka harus melakukan praktik dalam bentuk bisnis daring (online). Selama menjalakan usaha peserta didik wajib melaporkan penjualan dalam bentuk laporan omset.

Melalui metode SIKEPO, peserta didik belajar dengan proses praktik langsung sejak observasi-perencanaan-hingga aktivitas bisnis dan pengelolaan keuangan. Metode ini benar-benar telah menjadi sarana implementasi literasi finansial karena peserta didik dibimbing untuk menghargai uang, tahu cara mendapatkannya, dan mahir dalam pengelolaannya.

Dalam praktik bisnis, penetapan target omset dapat menjadikan peserta didik terus belajar bagaimana mengembangkan upaya penjualan serta melakukan peningkatan produk-produk yang dapat meningkatkan omset penjualannya. Target omset yang ditetapkan dalam kontrak belajar mendorong peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dalam menyelesaikan masalah, menjalin komunikasi, dan membangun jejaring antar mereka dan pihak lain (seperti pelanggan, pemasok, bisnis pendukung lainnya).

Sebagai SMK dengan core bisnis TI (Teknologi Informasi), kegiatan bisnis yang dilakukan peserta didik ditekankan kepada bisnis daring. Berbagai jenis usaha dilakukan peserta didik, seperti desain grafis, desain template blog, perakitan komputer, instalasi jaringan, instalasi dan perawatan AC, perbaikan  alat elektronik seperti kulkas dan fotokopi, maintenance akun game, jasa follower instagram, 3D printing, dan virtual realty serta jasa pembuatan aplikasi dan laman.

Menurut Tutus, Kepala SMKN TI Pembangunan Cimahi, aktivitas bisnis yang dilakukan peserta didik di sekolah ini tidak selalu langsung sesuai dengan program keahlian mereka. Namun, pada intinya mereka harus melakukan usahanya dengan sarana digital atau berbasis daring. Ternyata dalam perkembangannya, mereka dapat mengaitkan dengan kompetensi keahlian yang mereka pelajari.

Metode Pembelajaran Kewirausahaan SIKEPO ini telah diterapkan selama enam tahun di SMK TI Pembangunan Cimahi. Menurut Tresi Tiara Intania Fatimah, sang guru pembimbing, “Dengan praktik, peserta didik lebih mudah mempelajari teori. Semua teori praktis sudah mereka lalui dalam proses berbisnis sehingga pembelajaran dapat berjalan lancar. Dampaknya, nilai yang mereka capaipun bisa lebih tinggi dari ekpektasi.”

Yang lebih membanggakan adalah bahwa mereka yang menjalankan bisnis menjadi sadar akan pengelolaan uang. 26 orang dari 300 orang yang berbisnis, telah mencapai omset di atas lima juta rupiah, dan memperoleh penghargaan dari beragai pihak. Umumnya peserta didik dapat memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri, bahkan membantu orangtua mereka. Kesadaran dan kemandirian finansial peserta didik dapat terbentuk. Dampak lainnya, mereka siap dengan pilihan pekerjaan di masa depan, yakni berwirausaha.

Wirausaha bukan sekedar jualan, namun dapat menjadi sarana mengasah kecakapan berliterasi. Dalam berwirausaha ini, peserta didik dapat meningkat dalam kecakapan literasi finasial dan digitalnya. SMK TI Pembangunan Cimahi telah menjadi inspirasi bagi kita semua.

 

Salam Literasi. SMK Bisa, SMK Cerdas Berliterasi.

Beri nilai konten ini  
Responsive image