SERI PPK : MEMBANGUN KARAKTER KEMANDIRIAN MELALUI SIKEPO -implementasi PPK SMK TI Pembangunan Cimahi

oleh Endang Sadbudhy Rahayu 572

SIKEPO merupakan akronim dari ObservaSI KEpepet Praktik Omset. Implementasinya di dalam pembelajaran kewirausahaan sangat sarat dengan nilai-nilai karakter.

Kesatu, dalam kegaitan observasi, peserta didik ditugaskan untuk melakukan pengamatan langsung terhadap aktivitas bisnis para pedagang. Dengan pengamatan tersebut, peserta Penguatan Pendidikan Karakter diterapkan dengan tiga pendekatan, yakni PPK Berbasis Kelas Berbasis Budaya Sekolah dan Berbasis masyarakat (komunitas). Dalam buku Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Doni Koesoema A (2018:9) menuliskan, pendidikan karakter berbasis kelas berfokus pada keseluruhan dinamika interaksi guru dan peserta didik di dalam kelas dalama struktur sebuah Kurikulum. Kelas menjadi locus educationis utama bagi praksis pendidikan, yaitu tempat di mana di dalam keseluruhan proses pendidikan terjadi interaksi antara guru dan peserta didik. Dalam interaksi ini terjadilah proses pembentukan karakter individu, terutama bagi para peserta didik. Gurupun juga menyempurnakan identitasnya dalam perjumpaan dengan peserta didik.

Di SMK TI Pembangunan, Kota Cimahi-Jabar, pembelajaran kewirausahaan yang diampu oleh Ibu Tresi Tiara Intania Fatimah, SE dilaksnakan dengan menggunakan metode SIKEPO. Metode ini telah diimplementasikan Bu Tresi selama 6 tahun terakhir ini.

didik dapat melihat dari dekat semangat, usaha, kerja keras, jerih payah, pengelolaan usaha, pengelolaan pelanggan dan meningkatkan penjualan. Dari observasi tersebut akan terbentukk sikap empati, toleransi, motivasi dan kesadaran mendalam, bahwa dari pedagang kecil terdapat omset dan yang tidak sedikit serta tak memandang remeh pedagang kecil. Hal tersebut bisa menjadi inspirasi memulai usaha. Dari sikap empatii tersebut, maka peserta didik dapat percaya diri dan tidak mudah gengsi dalam menjalankan usaha mulai dari yang mereka bisa.

Kedua, Kepepet. Dalam pembelajaran dilakukan kontrak belajar, dengan menyusun rencana usaha untuk meraih target omset sebesar Rp. 500.000/ semester. Kondisi ini membuat peserta didik berusaha dan berjuang untuk mencari cara-cara pencapaian sesuai yang direncanakan. Saat kepepet, peserta didik tanpa diinstruksi sekalipun akan berupaya untuk mengatasi masalah, antara lain melalui komunikasi antar mereka dan menjalin relasi, membangun jejaring kerjasama dan membentuk kolaborasi dalam mewjudkan renacana mereka menjadi nyata. Mereka akan belajar baik dengan membaca, browsing maupun mencari literatur. Karakter pembelajar bisa terbentuk dari kondisi ini.

Ketiga, Praktik. “Kewirausahaan adalah praktik, bukan pelajaran tentang ‘wirausaha adalah…”, kata Bu Tresi. Keberhasilan wirausaha adalah dari praktiknya. Praktik wirausaha ini dilakukan dengan melakukan bisnis daring/online. Disinilah peserta didik diasah untuk mengembangkan potensi dalam menjual, mempromosikan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya adalah kreatif, disiplin, kerja keras, tanggungjawab untuk meraih penjualan dan melakukan layanan terhadap pelanggan. Mereka juga secara religious dikembangkan dalam berdoa dan mengimani tentang usaha yang halal dan penuh berkah, serta mensyukuri atas hasil usaha mereka

 Keempat, Omset. Puncak Pencapaian ada pada Omset. Di dalam proses bisnis mereka, yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan pencatatn terhadap omset yang dicapai masing-masing peserta didik. Mereka ditekankan untuk jujur atas omset mereka. Dalam hal ini Ibu tresi melakukan pemantauan melalui Blog. Dengan capaian yang mereka raih, mereka juga dapat terus mengembangkan upaya peningkatannya dengan terus belajar, bertanya dan mencari referensi, termasuk mengembangkan produk maupun metode penjualan.

Wirausaha bukan sekedar jualan, namun dalam pembelajaran dapat dikembangkan sebagai sarana pmengasah karakter. Dan SMK TI Pembangunan Cimahi yang dipimpin Drs. Tutus ini, telah menerapkannya. Sungguh sebuah inspirasi bagi kita semua. SMK Bisa, SMK Cerdasberkarakter.

Beri nilai konten ini  
Responsive image