Berkomitmen Tingkatkan Kualitas Lulusan SMK

oleh Apriliyadi 355

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan terus berkomitmen meningkatkan kualitas lulusan sekolah menengah kejuruan.Hal itu sesuai Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK yang bertujuan meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia menunjukkan capaian yang menggembirakan. Terkait dengan hal itu, berbagai pihak telah bahu-membahu mendukung pengembangan SMK.

"Saya berkeyakinan dukungan dan sinergi seluruh pihak merupakan modal utama mewujudkan keberhasilan revitalisasi SMK sehingga mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja sesuai dengan tuntutan lingkungan kerja nasional, regional, maupun internasional," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikdasmen Kemendikbud), Hamid Muhammad, saat memberikan arahan pada acara Pengesahan 81 Skema Sertifikasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level II dan III untuk SMK, di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis (18/4).

Kegiatan yang dihelat bersamaan dengan semarak pekan Hardiknas tersebut menghadirkan Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Kunjung Masehat didampingi Direktur Pembinaan SMK Dikdasmen Kemendikbud, M Bakrun, dan jajaran Direktorat Pembinaan SMK lainnya.

Hamid mengutarakan berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik), jumlah total SMK saat ini sebanyak 14 ribu unit, 25% di antaranya SMK negeri dan selebihnya SMK swasta, sedangkan jumlah peserta didik sebanyak lebih dari 5 juta siswa, dengan 9 bidang keahlian, 49 program keahlian, dan 146 kompetensi keahlian.

"Angka-angka tersebut selain merupakan indikator keberhasilan penyediaan akses pendidikan menengah, sekaligus mencerminkan besarnya tantangan bagi pemerintah untuk memastikan penyediaan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan standar nasional pendidikan," ungkapnya.

Hamid mengutarakan tantangan kebekerjaan lulusan SMK menjadi isu penting lainnya yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak. "Kebekerjaan lulusan SMK dipengaruhi banyak hal. Saya ingin fokus pada penyediaan kualitas layanan pendidikan. Perlu upaya dan dukungan yang lebih besar untuk mendorong peningkatan kualitas SMK terutama untuk SMK dengan kapasitas yang masih terbatas," tukasnya.

Hal senada diakui Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikbud), Didik Suhardi, saat membuka Pekan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kota Lubuklinggau, Sumatra Selatan, Sabtu (20/4).

Menurutnya, tenaga kerja Indonesia 50% masih diisi lulusan SMP ke bawah, sekitar 30% diisi lulusan sekolah menengah, sedangkan lulusan sarjana masih sekitar 10%. "Kondisi Ini tidak menguntungkan kalau kita tidak segera meningkatkan tingkat kualifikasi pendidikan angkatan kerja kita," kata Didik Suhardi.

Untuk itu, dia mengimbau agar satuan pendidikan SMK dapat menyeleksi jurusan yang sesuai dengan tuntutan dunia usaha. "Minimkan output lulusan dari jurusan yang di dunia usaha sudah jenuh. Jurusan elektronika otomatif dan perfilman merupakan dua jurusan yang sangat prospektif dan dibutuhkan dunia industri," ungkapnya.

Dikatakan penyiapan lulusan SMK harus menyesuaikan dengan perubahan dan tuntutan globalisasi. "Persoalan kita sekarang ada di kualitas, tuntutan, dan dunia yang semakin mengglobal menuntut pendidikan kita harus selalu ditingkatkan," tegasnya.

Sistem sertifikasi
Di sisi lain, sebagai persiapan untuk memasuki dunia kerja, pengembangan sistem sertifikasi di dunia pendidikan khususnya di SMK ialah keniscayaan karena merupakan amanat UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pemberian sertifikat kompetensi sebagai bentuk pengakuan atas capaian kompetensi peserta didik juga dapat dijadikan sebagai salah satu quality assurance atas output dunia pendidikan.

"Saya berharap dengan tersedianya akses sertifikasi bagi siswa SMK khususnya dengan sertifikat berlogo burung garuda akan lebih memperkuat nilai tawar lulusan SMK di dunia kerja," tandas Hamid.

Dalam kesempatan sama, Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Kunjung Masehat, mengemukakan sertifikasi kompetensi ini sangat penting, apalagi dalam menyambut era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Saat ini untuk ASEAN beberapa bidang telah mengeluarkan sertifikasi. Salah satunya bidang pariwisata. "Kalau kita sudah menyamakan persepsi dengan negara-negara ASEAN, di mana pun juga anak-anak kita yang lulus di bidang itu, akan mendapat pengakuan di negara-negara ASEAN," ujarnya. (S2-25)

Sumber : mediaindonesia.com 

Beri nilai konten ini  
Responsive image