Allahku , True Love

oleh Ragil Soemanto 2.263

Waktu menunjukkan pukul 04.00 tepat. Sebagian anak bergegas menuju mushola terdekat untuk melaksanakan sholat subuh. Sementara aku masih bermimpi indah dengan tersenyum-senyum dan memeluk erat kekasihku, iya kekasihku. Guling yang kubawa jauh-jauh dari korea. Yah, begitulah. Aku tak bisa tertidur nyenyak apabila tak memeluknya. Apalagi posisiku yang jauh dari ibu dan ayah  yang berada di korea sana.

Aku adalah seorang mahasiswi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Aku berada di fakultas kedokteran, sekarang aku sudah semester 7. Sebentar lagi aku akan lulus. Sudah pasti targetku adalah Cum laude.

Aku memang cukup minoritas disini. Aku satu-satunya murid tanpa agama atau atheis. Aku besar dan hidup dikorea dengan keluarga yang tidak mempunyai agama. Orang tuaku berdalih  bahwa alam semesta ini ya sudah begini adanya. Selama tidak dapat dibuktikan oleh ilmu pasti mereka tidak percaya adanya tuhan. Mereka cukup benar-benar percaya tentang teori BIG BANG.  Teori ledakan yang membentuk alam semesta ini. Yah, itulah yang kutau. Sampai saat ini pun, aku masih tidak percaya adanya Tuhan atupun Agama.

Jika orang bertanya, apa yang aku lakukan jika aku merasa sedih, gunda, senang, ataupun sediri. Bukankah dalam hal seperti itu, Tuhan adalah tempat mengadu. Itu adalah pertanyaan yang sering kudapat dan terlontar dari bibir mereka.

Aku sangat suka menulis, bagiku aksara adalah segalanya. Jadi, jika aku merasakan semua perasaan itu. Aku akan mengambil bukuku, laptop atau handphone untuk sekedar menuliskan perasaanku saat itu. Aku cukup aktif di sosial media, baik itu path, twiter, facebook, instagram, bbm ataupun Line. Aku akan mengungkapkan keluh kesahku disana. Teman-temanku menghargai keputusanku. Tapi bukan berarti tak ada yang mengangapku aneh dan menJudge aku.

Waktu telah menunjukkan pukul 07.00. Aku harus meninggalkan mimpi indahku dan bergegas untuk mandi dan bersiap-siap. Karena aku tinggal di asrama sekolah. Tentu saja aku harus mengantri untuk mandi. Itulah sebabnya aku bangun lebih siang. Karena pastilah kamarmandi yang cuma ada 4 buah untuk 8 kamar, yang perkamar diisi 4 orang itu cukup sepi.

“gimana jer, udah sepi kah kamar mandi tuh?”, tanyaku pada jerry yang sudah 80% siap pergi ke kampus.

“lumayan jung, tinggal 3 orang aja yang lagi mandi. Jadi masih ada 1 kamar mandi kosong tuh. Cepetan sana mandi. Keburu ada yang ngisi nanti”.

Mendengar jawaban jerry aku buru-buru mengambil handukku dan bergegas ke kamar mandi. Dengan mata yang masih sedikit tertutup kupaksa kaki ini melangkah kecil. Hingga sampai di depan pintu kamar mandi.


            Jarak antara kampus dan sekolah cukup dekat. Jadi aku lebih memilih berjalan kaki daripada harus mengunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Biasanya aku berangkat bersama teman sekamarku Jerry, Ira dan Syifa. Kami memang cukup berbeda dalam hal kepercayaan. Jerry dan Syifa beragama islam, sedangkan Ira beragama kristen.

            Tapi jangan salah, kami sangat kompak dalam hal apapun, tak terkecuali toleransi. Kami sangat bertoleransi akan agama yang dianut satu sama lain. Tapi bukan berarti kami berbaur satu sama lain saat acara keagamaan atau hanya sekedar mengucapkan salam atau memberi ucapan selamat idul fitri atau natal. Tidak, kami tidak melakukan itu. Yang kami tau itu hanya menganggu kepercayaan masing masing,

            Yah, karena aku tidak mempunyai agama. Sudah tentu aku akan tetap berbaur kemana pun. Awalnya aku hanya iseng dan ikut ikutan saja. Lama lama aku mulai ingin mempercayai tuhan, ingin memeluk agama, ingin mempunyai kepercayaan. Dan teman temanku setuju akan keputusan itu. Merekan sering mengajakku ketempat ibadah mereka, mengenalkanku siapa tuhan mereka, dan tentang agama yang mereka anut. Mereka tak pernah mengatakan agama islam lebih baik dari kristen atau sebagainya. Mereka juga tak pernah menyuruhku untuk memeluk salah satunya. Yang mereka tau, kepercayaan datang dari hati. Bukan disuruh, dipaksa atau dipengaruhi.

“kret.......”, pintu ruangan perlahan terbuka. Bapak Dr. Syarif Ahmad  masuk, dia adalah dosen pembimbing kami. Dia adalah orang yang benar-benar adil. Dia cukup dekat denganku. Dia pula ikut mendukung keputusanku untuk memeluk agama. Dia juga sama seperti teman-temanku. Dia tidak ingin memaksaku untuk memeluk agama islam. Kebetulan Dr. Syarif beragama islam.

Dr. Syarif mulai menyampaikan materi, kupasang telinga ini lebar-lebar dan berusaha mencatat apa saja yang dia sampaikan kedalam buku kecil yang selalu kubawa kemana-mana untuk menulis apa saja yang ingin kuketahui.

Akhirnya mata kuliah pun selesai.“wah..... materinya banyak banget”, ujar Ira sambil meletakkan kepalanya kemeja

“iya ra, betul. Yah, maklum saja  kita sebentar lagi akan dihadapkan oleh tumpukan skripsi yang pastinya pusing kepala”, timpal syifa

Aku hanya tersenyum melihat mereka yang memasang muka seakan habis diterjang kegalauan luar biasa. Senang karena akan segera lulus. Tapi harus dihadapkan skripsi yang tebal dan cukup memusingkan bahkan menguras tenaga. Apalagi setelah kami lulus pastinya kami tidak bersama lagi. Semua kegilaan kami, kebersamaan, keceriaan kami. Hanya akan menjadi sebuah memori yang akan tersimpan erat dalam cinta seorang sahabat.

“jung, kamu beneran mau pulang ke korea setelah kelulusan nanti?”, dengan nada lirih jerry menanyakan hal yang sebenarnya tak ingin kubahas.

“iya jer, sepertinya begitu. Aku pasti akan merindukan kalian. Aku akan kembali menetap disana. Mungkin aku akan sesekali ke Indonesia untuk mengunjungi nenekku dan kalian. Maafkan aku ya”

            Tanpa berpikir panjang, mereka langsung memelukku. Menangis dalam pelukkan yang hangat saat itu. Pelukan seorang sahabat yang sangat menyanyangi sahabatnya. Seperti ingin berkata padaku untuk tetap ingin tinggal disini dan berkerja di daerah sini. Agar kami lebih sering bertemu. Kucoba memahami isi hati mereka lewat bertetes air mata yang keluar membasahi pipi cantik mereka.                              

            Aku terpaku cukup lama, dikamar munggil ini aku dan teman temanku menghabiskan banyak waktu bersama. Tertawa, sedih, menangis, bahagia dan kegalauan kami lalui bersama di kamar ini. Ingin rasanya kumeneriakkan semua kesedihan yang menghadang diri ini. Dan disaat seperti inilah aku kadang mulai merasa aku membutuhkan Tuhan. Tuhan yang ingin kuajak mengobrol dan curhat atas apa yang kurasa. Aku kadang mulai bosan dan lelah. Lelah menulis keluh kesah hanya kedalam ukiran aksara diatas buku. Aku ingin mengungkapkannya.

            Ira, mengungkapkan keluh kesahnya dengan datang ke gereja dan berdoa disana. jerry dan Syifa mengambil air wudhu dan mulai melaksanakan sholat lalu setelah itu berdoa dan mengungkapkan semua keluh kesahnya. Sedangkan aku, aku hanya mengungkapkannya kedalam aksaraku. Aku tak mungkin mengungkapkannya pada sahabat atau orang tuaku. Apalagi hal pribadi,Tentu saja tidak.

            Saat seperti itulah aku benar-benar merasa sendiri. Merasa bingung harus kemana dan lari kemana dengan semua perasaan ini. Hingga aku sampai pada suatu titik. Aku benar-benar ingin memeluk agama saat itu. Dan entah kenapa aku mulai jatuh hati dengan agama yang jerry dan syifa anut. Aku benar benar penasaran dengan agama ini. Yah, agama islam. Hati ini benar benar seakan dibuatnya untuk mendekat dan mendekat. Pikiranku dibuat seakan terhipnotis untuk tau dan tau lagi tentangnya.Banyaknya aturan dan larangan dalam agama ini lah yang membuat diri ini seakan terbuai untuk menganutnya.

            “apa aku harus memeluknya. Tapi aku ingin lebih mengenalnya dulu. Tapi kenapa hati ini begitu mengebu-gebu untuk mendekatinya. Perasaan apa ini?”. Aku hanya bergumam sendiri dengan beribu kata tapi, tapi dan tapi. Sampai kulihat sebuah Al-Qur’an dimeja Syifa. Awalnya aku berusaha mengabaikannya. Tapi, entah kenapa hati ini malah semakin terdorong untuk menyentuh dan membukannya.

            Kuputuskan untuk mengambilnya. Kubuka dan kubaca tiap-tiap kata. Kebetulan Al-Qur’an Syifa ada terjemahannya. Jadi memudahkanku untuk memahami apa sebenarnya isi kitab suci agama islam itu. Dan lagi lagi entah kenapa hati ini semakin tertarik untuk membuka dan membaca halaman demi halaman lagi. Memahami tiap kata dan kalimat yang ada didalamnya.

            Tak terasa 2 jam berlalu. Aku masih asik dengan Al-Qur’an itu. Hingga terdengar “tok.....tok....tok...., Jung buka pintunya. Tumben banget kamu kunci ini pintu”, suara Jerry mengelegar kemana mana. “iya, bentar Jer, tadi lagi tidur jadi kukunci pintunya. Bergegas kututup Al-Qur’an Syifa dan kuletakkan kembali keatas mejanya.

            Kubuka kunci pintu kamar. “maaf ya teman-temanku”, dengan muka imut aku berusaha membuang kekawatiranku. Tiba-tiba Ira menepuk pipiku berulang kali seraya berkata,”ih...., muka imutmu itu loh Jung. Bikin kangen tau”. “iya ra, betul sekali. Eun Jung memang gitu. Kalau gak imut mukanya, bukan Eun Jung namanya. Menanggapi kata-kata mereka aku hanya tersenyum malu.

            Hari demi hari kulewati dengan penuh tanda tanya besar dan perasaan penasaran luar biasa yang mendera diri. Seakan ingin mendekat dan membuka buku itu lagi. Sudah hampir seminggu lamanya semenjak hari itu. Ya, hari dimana aku membuka buku itu dan membaca tiap detail kata didalamnya. Sejak hari itu juga aku seperti dibuat kehilangan fokus olehnya. Aku selalu memikirkan buku itu. Hingga hari ini pun datang. Hari dimana awal dari hidupku sebenarnya. Seperti terlahirnya aku kembali menjadi orang yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Seperti aku menemukan jadi diri sesungguhnya.

Hari ini, 15 februari 2015. Aku duduk manis dimeja belajarku, termenung sambil menatap dengan masih penuh penasaran kearah Al-Qur’an diatas meja Syifa. Aku ingin menyentuhnya, aku ingin membacanya lagi, aku ingin mempelajari setiap detail kata yang syarat akan makna didalamnya.

Kebetulan Ira, Syifa, dan Jerry tertidur dengan lelapnya. Mungkin lelah benar-benar bersahabat dengan mereka. Yah, skripsi benar-benar membuat diri seakan lupa akan aktivitas lain. Selain, berhadapan dengan tumpukan buku dan bertatap lama didepan laptop. Makan dan mandi seakan jauh dari diri. Hanya beberapa kali menyapa dan kadang terlupa.

            Sementara aku masih bingung dengan perasaan yang menderaku. Aku semakin tertarik pada Al-Qur’an itu.Seakan mempunyai magnet yang cukup kuat untuk menarikku kembali mendekat dan menyentuhnya. Hingga aku tiba disaat aku benar-benar merasa dilema. Antara membukanya kembali atau tidak  membukannya dan menyimpan rasa penasaran yang mengebu-gebu ini dalam-dalam. Namun apalah dayaku. Rasa penasaran ini begitu besar dan sanggup menggalahkan ketakutan untuk membukannya. Dan akhirnya kuputuskan untuk membuka kembali AL-Qur’an itu kembali dan memahami tiap kata didalamnya.

            Hingga aku akhirnya sampai pada akhir buku itu. Air mata ini tiba-tiba menetes dan seperti mengalir begitu saja. Aku benar-benar terkagum-kagum  akan setiap bait kata yang ada didalamnya. Semua syarat akan makna. Benar-benar sebuah aksara yang indah.

            Jerry terbangun dari tidur nyenyaknya,”Jung,ada apa? Kenapa menangis?”. Tanpa berpikir panjang aku langsung memeluk Jerry dengan erat. Menangislah aku dipelukan dia. Tanpa memikirkan resiko apa yang akan terjadi, Aku langsung mengatakan,”Jer, aku ingin mengenal islam lebih dalam”.

Detakjantung Jerry begitu kencang, mungkin dia terkejut mendengar keputusanku. Dia semakin memelukku dengan eratnya dan menangis pula dalam pelukkan itu. Jerry melepas pelukkan itu sebentar lalu memegang pipiku,”Jung, aku senang atas keputusanmu. Akhirnya kau menemukan tuhan. Cinta sejati didunia ini. cinta yang akan selalu menjagamu. Oke, jika kamu siap. Jangankan besok hari ini pun aku akan mengantarmu ke ustadz Muklis dan kau ucapkan kalimat syahadad Jung. Siap?”. Ku iyakan ajakan Jerry dengan anggukan kepala dan air mata yang semakin menetes membasahi pipiku.

Suara isak tangis kami membangunkan Ira dan Syifa. “ada apa ini? apa yang terjadi?”,tanya syifa dengan nada cukup terkejut.”Jung akan memeluk agama, dia memilih agama islam”. Ira dan Syifa langsung memeluk kami dengan erat. Mereka juga meneteskan air mata. Mereka senang aku punya agama dan percaya adanya tuhan yang menciptakan alam semesta ini termasuk aku.

Sore ini aku ikut Jerry dan Syifa ke masjid menemui ustadz Muklis. Ira memutuskan untuk tetap tinggal. Walaupun aku memeluk islam, dia tak ada kata sedikitpun marah ataupun tak setuju dengan keputusan yang aku ambil. Dia tetap mendukung apa yang menjadi keputusanku. Dia justru senang jika aku mempunyai agama, tanpa menuntutku untuk masuk keagamanya.

Jarak masjid dengan astrama tidak begitu jauh. Kami memilih untuk berjalan kaki. Setelah sekitar 1 menit, akhirnya kami tiba di masjid. “syifa dan jung tunggu di teras ini dulu ya, aku mau datangin ustadz nya dulu. Oke ?”. Jerry memutuskan untuk menemui ustadz Muklis.

Tak selang berapa lama, Jerry pun kembali dengan ustadz Muklis.

“asalamualaikum, siapa nih yang namanya Jung?”, tanya ustadz Muklis

“Saya Ustadz”, Kujawab tanya ustadz Muklis seraya mengacungkan tanganku.

“kamu siap?”, ustadz kembali bertanya soal kesiapanku

Dengan wajah penuh dengan arti siap, aku tersenyum dan mengangukkan kepala. Pertanda bahwa aku benar benar siap dengan ini semua. Ustadz pun menyuruh kami untuk masuk kedalam masjid. Ustadz duduk didepanku,”ukh Jung, dengarkan baik-baik. Lalu, ikuti saya”. Ustadz mulai melantunkan kaliman syahadad.

Dengan terbata bata kuikuti suara ustadz Muklis. “

“Alhamdulillahi rabbil ‘allamin”, semua orang didalam lingkaran kecil itu memanjatkan syukur. Mereka senang, umat islam bertambah lagi. Saat itu juga, ustadz bertanya akankah aku ingin mengubah namaku.

“saya hanya ingin menambahkan kata Siti dan Annisa, saya ingin nama saya menjadi Siti Eun Jung Annisa Dewi”, sambil tersenyum senang kujawab pertanyaan ustadz Muklis.     “baiklah jung, itu nama yang bagus. Ustadz harap kamu istiqomah hingga kau kembali pada Allah SWT, aamiin.”. Semua mengaamiinkan do’a ustadz Muklis.

Jerry berusaha mengajariku menutup auratku dengan baik dan benar. Dia lalu mengeluarkan kerudung, gamis dan kaos kaki dari tasnya.”Jung, pakailah ini. kebetulan aku membawa yang mudah untuk kau pakai. Aku juga membawa bergo agar kau mudah memakainya”. Ku ambil pakaian itu lalu pergi ketoilet untuk berganti pakaian. Sementara ustadz ijin untuk pergi karena masih ada urusan.

Setelah beberapa menit berlalu, aku kembali dengan pakaian yang Jerry berikan. Kulihat raut wajah terkejut terukir diwajah Jerry dan Syifa.

 “Jung, masya’allah. Kamu cantik dan anggun sekali”, ujar Syifa.

“iya fa,Jung cantik banget. Ini betul Jung?”, Jerry seperti terheran-heran melihatku.

“ih, kalian terlalu memuji. Sekarang kita mau apalagi? Aku tak sabar ingin melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an dan melaksanakan sholat”.

Dengan serempak mereka berkata,”sekarang. Hahaha”. Tawapun pecah saat itu, aku seperti menemukan kebahagiaan baru dalam hidupku saat itu.

Sudah sebulan berlalu sejak hari itu. Yah, memang aku mendapat reaksi keras dari orang tuaku. Tapi lambat laun mereka luluh akan keputusan yang aku ambil. Meski mereka tidak mengikuti jejakku. Aku masih tetap bahagia karena mereka memberi restu kepadaku.

Besok aku akan wisuda. Orang tuaku pasti akan kesini. Aku ingin melihat senyum mereka merekah diwajah manis mereka. Bukan saja karena aku telah mempunyai agama, tapi karena aku juga dapat membuktikan bahwa walaupun aku mempunyai agama dan harus disibukkan oleh ibadah ini itu. Tapi, aku tetap berhasil lulus dengan predikat cum laude, seperti yang kujanjikan dulu.

Sekarang hidupku benar-benar terasa damai. Aku seperti terlahir kembali kedunia. Kehadiran islam dalam diriku terasa semakin membuat hidupku lebih berarti. Cinta Allah yang masuk kedalam hati dan menetap disana seperti telah membuatku merasa bahwa aku punya cinta sejati yang selalu bersamaku. Yang tak akan pernah membuatku merasa sendiri. Tak pernah menyakitiku. Tak pernah membuatku kecewa. Selalu menjagaku dan melindungiku. Bahkan selalu memaafkanku. Cinta yang sepanjang masa akan menuntunku kearah jalan kebahagiaan.

Aku ingin terus belajar, belajar dan belajar lagi. Aku ingin mengapai cintaNya lagi dan lagi. Aku ingin berubah semakin baik dan baik lagi. Hingga aku dapat berjumpa denganNya nanti disurga yang telah Ia siapkan bagi yang benar-benar mengharapkan ridho dari Nya. Aamiin.
Konten ini dikontribusikan oleh:

Ragil Soemanto

Ragil Soemanto sebenarnya terlahir dengan nama Ragil Pangestu Wulandari pada tanggal 20 maret 1999 diambulance. Tumbuh dan besar di kota manis Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dengan ayahnya Sumanto dan ibunya Mainem. Dibuat jatuh cinta dengan sastra sejak seorang sahabatnya berhasil menerbitkan sebuah buku pada tahun 2015. Sejak itu, semangatnya mulai membara untuk menulis.

Beri nilai konten ini  
Responsive image